BAB II
TINJAUAN TEORITIK
Menurut Pearson (dalam Sarwono dan Meinarno, 2009) manusia
adalah makhluk sosial. Artinya,sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat
menjalin hubungan sendiri, kita selalu menjalin hubungan dengan orang lain,
mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain, membentuk
interaksi, serta berusaha mempertahankan interaksi tersebut. hubungan
interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih, yang
memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang
konsisten. Ketika akan menjalin hubungan
interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan interpersonal attraction.
Baron
dan Byrne (2006) menjelaskan interpersonal
attraction adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, dimana
penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, dari strong liking
sampai dengan strong dislike, jadi ketika kita berkenalan dengan orang lain,
kita sebenarnya melakukan penilaian terhadap orang tersebut.
Hal ini bukan hanya terjadi pada dua orang yang bertemu secara langsung saja.
Namun, orang yang berkenalan melalui dunia maya juga dapat memberikan penilaian
seseorang walaupun bukan melalui sikap melainkan kata-katanya saat
berkomunikasi melalui internet.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu ketertarikan
interpersonal (interpersonal attraction),
yaitu faktor internal, eksternal, dan interaksi.
Dalam faktor internal terdapat kebutuhan untuk berinteraksi dan pengaruh
perasaan yang dimana, sebuah penemuan
menunjukkan bahwa orang asing akan lebih menyukai jika kita mengucapkan kalimat
yang menyenangkan. Jika kita membuat orang lain senang saat kita bertemu
dengannya, maka interaksi akan lebih mudah terjalin.
Hal seperti ini banyak ditemukan di dunia maya yang melakukan perkenalan
melalui chatting. Kemudian faktor
eksternal, berupa kedekatan dimana biasanya proses kedekatan ini terasa semakin
dekat apabila jaraknya dekat sehingga sering bertemu. Namun, berbeda dengan
menjalin kedekatan melalui dunia maya yang timbulnya karena intens
berkomunikasi dan saling memberi kenyamanan satu sama lain. Terakhir adalah
faktor interaksi, di dalam faktor interaksi dijelaskan mengenai adanya
persamaan-perbedaan. Miller &
Perlman (2009) (dalam Sarwono dan Meinarno, 2009) mengemukakan bahwa sangat menyenangkan
ketika kita menemukan orang yang mirip dengan kita dan saling berbagi asal
usul, minat, dan pengalaman yang sama. Jones menjelaskan bahwa kita merasa senang saat
menemukan terdapat hal yang mirip dengan orang yang kita sukai, tetapi ternyata
lebih menyenangkan saat kita mengetahui bahwa pandangannya berbeda dengan yang
kita miliki (Jones
dalam Pines, 1999,
dalam Sarwono dan Meinarno, 2009).
Menurut Baron &
Byrne (2006), cinta adalah kombinasi dari emosi, kognisi dan perilaku yang
sering memainkan peran penting dalam hubungan yang intim. Dalam teori Stenberg
(dalam Baron dan Byrne, 2006), mengemukakan bahwa cinta memiliki tiga dimensi,
yaitu hasrat (passion), keintiman (intimacy), dan komitmen/keputusan
(commitmen/decision). Passion dideskripsikan sebagai keadaan emosional yang
liar : perasaan lembut, dan hasrat seksual, kegembiraan dan kesedihan,
kecemasan dan ketenangan, altruisme, kecemburuan yang saling bercampur aduk
dalam satu perasaan (Berscheid & Walster, 1978, dalam Taylor, 2009).
Komitmen merupakan dimensi dimana, seseorang berkeputusan untuk tetap bersama
dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Alasan utama untuk melakukan pernikahan
adalah adanya cinta dan komitmen yang dibagi bersama pasangan. Pasangan
memiliki hasrat untuk membagi dirinya dalam hubungan yang berlanjut dan hangat
( Turner & Helms, 1995 dalam Sarwono dan Meinarno, 2009).
Dari beberapa teori
yang telah dijelaskan, fenomena cinta melalui dunia maya hingga sampai ke
jenjang pernikahan awalnya didasari oleh adanya beberapa faktor. Faktor-faktor
tersebut merupakan tahap awal dalam menjalin hubungan interpersonalnya. Faktor
internal terdapat kebutuhan untuk berinteraksi dan pengaruh perasaan, faktor
eksternal berupa kedekatan, dan faktor interaksi yaitu adanya
persamaan-perbedaan. Kemudian, setelah adanya faktor-faktor tersebut timbul
kecocokan dan rasa ingin bertemu antara keduanya. Hal yang menyebabkan
timbulnya rasa ingin bertemu adalah adanya passion/hasrat yang tinggi antara
keduanya karena ingin secara langsung lebih menjalin kedekatan. Akhirnya,
mereka bisa sampai ke jenjang pernikahan itu karena adanya komitmen untuk
membangun hubungan ke arah yang lebih serius, yakni melalui pernikahan. Keintiman
dalam fenomena ini kurang begitu terlihat dikarenakan waktu perkenalan diantara
keduanya yang relatif sebentar hanya 3 bulan.

Thank you, your article is very good
ReplyDeleteviagra asli
cialis asli
viagra jakarta
viagra asli jakarta
toko viagra jakarta
jual viagra jakarta
agen viagra jakarta
toko viagra asli
jual viagra asli
jual viagra
toko viagra
agen viagra
cialis jakarta
cialis asli jakarta
titan gel asli
titan gel jakarta
titan gel asli jakarta
viagra cod jakarta
obat viagra jakarta
obat viagra asli
viagra usa
viagra original
obat viagra
obat kuat viagra
jual cialis
toko cialis
obat cialis
obat cialis asli
obat kuat cialis
obat cialis jakarta
toko cialis jakarta
jual cialis jakarta
agen cialis jakarta
toko titan gel
jual titan gel
vitamale asli
permen soloco asli
maxman asli
vimax asli
viagra
titan gel
hammer of thor
hammer of thor asli
hammer of thor jakarta
hammer of thor asli jakarta