DEFINISI KONFORMITAS
Konformitas (conformity)
adalah perubahan perilaku seseorang yang terjadi karena pengaruh orang lain
yang nyata ataupun yang diimajinasikan.
Morton
Deutsch dan Harold Gerard (1955) mengajukan dua tipe pengaruh sosial yang
menyebabkan konformitas, yaitu informasional dan normatif.
PENGARUH SOSIAL INFORMASIONAL:
KEBUTUHAN UNTUK MENGETAHUI INFORMASI YANG BENAR
Definisi
Pengaruh sosial informasional (Cialdini, 2000; Cialdini
& Goldstein, 2004; Deutsch & Gerard, 1955) adalah pengaruh orang lain
yang mengakibatkan kita melakukan konformitas karena melihatnya sebagai sumber
informasi yang memandu perilaku kita. Kita melakukan konformitas karena
meyakini bahwa orang lain itu menginterpretasikan situasi yang kabur secara
lebih tepat daripada interpretasi kita sendiri, dan membantu kita untuk memilih
tindakan yang tepat.
Ilustrasi
Efek otokinetik: cahaya
yang diam di dalam ruang yang gelap nampak seperti bergerak-gerak, karena mata
kita tidak memiliki titik referensi dari objek lainnya.
Fase 1: Subjek duduk sendiri di ruang gelap,
diminta fokus memperhatikan satu titik bercahaya yang jaraknya 15 kaki.
Eksperimenter meminta subjek mengestimasi (memperkirakan) seberapa jauh titik
cahaya itu bergerak-gerak. Dalam fase
ini estimasi subjek bervariasi: ada yang memperkirakan bergerak-gerak sejauh 2
inci, 4 inci, 10 inci dsb.
Fase 2: Beberapa hari setelah Fase 1, subjek dipasangkan
dengan dua orang lain yang sama-sama memiliki pengelaman diminta mengestimasi
gerakan titik cahaya secara sendirian. Meskipun awalnya masing-masing memiliki estimasi
yang berbeda, namun setelah beberapa kali akhirnya tiap-tiap kelompok memiliki
estimasi yang sama mengenai seberapa jauh titik cahaya itu bergerak-gerak. Masing-masing
menyetujui estimasi dari kelompoknya.
Hasil eksperimen ini menunjukkan bahwa tiap-tiap
orang menjadikan orang lain sebagai
sumber informasi, dan menganggap bahwa
estimasi kelompok adalah yang benar. Pengaruh sosial informasional ini
menghasilkan penerimaan secara pribadi (private
acceptance).
Meskipun
jauh dari keyakinan awal namun orang-orang cenderung mengikuti begitu saja
estimasi kelompok, mungkin supaya tidak
nampak bodoh. Hal ini disebut public
compliance.
Untuk
memperkuat kesimpulannya, setelah subjek selesai berpastisipasi dalam
eksperimen Fase 1 dan 2, Sherif meminta tiap-tiap subjek memutuskan sendiri
mengenai seberapa jauh titik cahaya itu bergerak-gerak. Hasilnya, tiap-tiap
subjek tetap memberikan jawaban sesuai dengan estimasi dari kelompoknya. Hal ini didukung oleh penelitian lain yang
menunjukkan bahwa setelah satu tahun kemudian orang-orang tetap mengikuti pendapat kelompoknya (Rohrer,
Baron, Hoffman, & Swander, 1954).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang-orang
bersandar satu sama lain dalam mendefinisikan realitas, dan selanjutnya secara
pribadi menerima hasil estimasi kelompok.
Hasil penelitian Sherif diperluas dengan penelitian lain
dengan situasi yang lebih kongkrit daripada eksperimen Sherif. Misalnya
eksperimen Baron, Vandello, & Brunsman (1996) yang memberikan tugas subjek untuk
mengidentifikasi pelaku kejahatan, yang ditampilkan menggunakan slide (seperti
menjadi saksi mata tindak kejahatan nyata).
Hasilnya tetap sesuai dengan hasil penelitian Sherif,
menunjukkan bahwa dalam situasi yang ambigu (kurang pasti), banyak subjek yang
cenderung mengikuti jawaban orang-orang lain dalam kelompok, meskipun jawaban
tersebut salah. Kecenderungan sepertin ini tentu saja berisiko, karena
keputusan kita tidak akurat.
Ledakan Konformitas Informasional
Dalam situasi krisis, dapat terjadi bentuk konformitas
informasional yang dramatis. Hal ini terjadi bila individu
dihadapkan pada ketakutan, situasi mengandung
berbahaya, di mana ia kurang siap untuk merespon (Killian, 1964). Misalnya
adanya berita terjadinya tsunami di suatu tempat. Orang-orang mungkin
tidak mengerti apa yang sebenarnya
terjadi dan apa yang harus ia lakukan. Bila keamanan seseorang terancam, kebutuhan
informasi menjadi akut --- selanjutnya perilaku orang-orang lain menjadi informatif (dijadikan sumber
informasi).
Gustav Le Bon (1895) adalah peneliti yang pertama kali
mendokumentasikan bagaimana emosi dan perilaku dapat menyebar secara cepat
melalui suatu kerumunan (crowd) --- suatu efek yang disebutnya sebagai contagion.
Seperti telah kita pelajari, dalam situasi yang kabur, sangat mungkin
orang-orang hanya bersandar pada interpretasi dari orang lain. Padahal, dalam situasi yang sangat kabur dan
kacau, orang-orang lain juga tidak memiliki informasi yang akurat seperti kita.
Bila orang lain menerima informasi yang salah, kita mengadopsi kesalahannya dan
juga menjadi salah interpretasi.
Contoh ekstrim konformitas informasional yang salah arah
seperti itu adalah mass psychogenic
illness (Bartholomew & Wessely, 2002; Colligan, Pennebaker, &
Murphy, 1982).
Timothy Jones dkk (2000) dari Depkes Tenessee yang
menyelidiki kasus tersebut (lebih dari 170 murid, guru, dan staf dievakuasi ke
rumah sakit tanpa ditemukan faktor organik yang menjadi penyebab) menyimpulkan
bahwa penyebabnya adalah penyakit psikogenik masa (mass psychogenic illness).
Dalam hal ini kita perlu juga memperhatikan peran media
massa (televisi, radio, koran, internet,
e-mail) dalam menyebarkan informasi, yang mungkin memicu sakit psikogenik massa.
Kapan Orang Melakukan
Konformitas terhadap Pengaruh Sosial Informasional?
Berikut ini adalah beberapa situasi yang paling mungkin
menimbulkan konformitas karena pengaruh sosial informasional.
1.
Ketika situasi tidak jelas atau ambigu
Ketidakjelasan merupakan hal yang paling menentukan
sejauhmana seseorang menggunakan orang lain sebagai sumber informasi. Ketika
seseorang tidak mengetahui bagaimana respon yang benar, maka ia mudah
dipengaruhi oleh informasi orang lain. Semakin tidak memiliki informasi, kita
semakin tergantung pada orang lain.
2.
Ketika dalam situasi kritis
Dalam situasi krisis kita tidak memiliki waktu cukup
untuk memikirkan tindakan apa yang seharusnya kita ambil; kita harus bertindak
dengan cepat. Jika kita merasa takut, panik, serta tidak tahu apa yang harus
dilakukan, biasanya kita melihat bagaimana orang lain bertindak dan melakukan
hal yang sama dengan orang lain. Padahal orang lain yang kita tiru juga dalam
ketakutan dan panik, sehingga mungkin bertindak tidak rasional.
3.
Ketika orang lain adalah ahli
Biasanya, semakin ahli atau semakin berpengetahuan, seseorang
semakin dihargai sebagai pemandu/
panutan dalam situasi yang tidak jelas (ambigu). Sebagai contoh, ketika penumpang
pesawat terbang melihat asap dari mesin pesawat, maka hal pertama yang ia lihat
adalah reaksi dari pramugarinya (dianggap ahli). Bagaimanapun juga ahli tidak
selalu meerupakan sumber informasi yang dapat diandalkan. Misalnya, mungkin
saja pramugari mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan pesawat tersebut,
padahal sebenarnya pesawat sedang terbakar.
Menolak Pengaruh Sosial
Informasional
Menggantungkan diri pada orang lain dalam mendefinisikan
apa yang terjadi, bisa jadi merupakan langkah yang tepat, namun dapat juga
menjadi tragedi, tergantung kebenaran informasinya. Jadi, kita memerlukan
kriteria, kapan dapat menyatakan bahwa orang lain merupakan sumber informasi
yang tepat dan kapan kita menolak definisi situasi dari orang lain.
Pertama, dengan melihat beberapa contoh, dimungkinkan
jika kita menolak pengaruh sosial informasional yang tidak benar. Misalnya,
saat Perang Dunia tidak semua orang menjadi panik (Cantril, 1940). Sebagian dari mereka memilih menggunakan
strategi pemecahan masalah secara rasional (rational
problem solving); mereka mengecek berbagai situasi melalui siaran-siaran
radio dan menemukan bahwa radio yang berbeda menyiarkan hal yang berbeda. Mengingat kemungkinan dapat terjadi contagion
atau kepanikan massa, mereka lebih mengandalkan diri sendiri dalam mencari dan
menemukan informasi.
Keputusan kita untuk melakukan konformitas terhadap
pengaruh informasional tergantung
bagaimana evaluasi kita mengenai tindakan/reaksi dari orang lain: apakah
reaksi dari orang lain lebih syah daripada tindakan kita? Kita perlu menjawab
pertanyaan berikut ini:
PENGARUH SOSIAL NORMATIF:
KEBUTUHAN UNTUK DITERIMA
Banyak remaja bersedia berdiri di atas kereta
api menempuh perjalanan jauh antar kota (misalnya Bonek, pendukung Persibaya).
Fenomena ini menunjukkan bahwa ada hal lain yang mendorong kita melakukan
konformitas terhadap pengaruh sosial selain karena kebutuhan informasional,
yaitu: Kita melakukan konformitas juga supaya kita disukai dan diterima oleh
kelompok sosial kita. Kita melakukan
konformitas terhadap norma sosial (social
norms).
Kelompok memiliki harapan tertentu mengenai
bagaimana seharusnya perilaku anggotanya, dan anggota yang baik melakukan
konformitas terhadap aturan tersebut. Anggota yang tidak melakukan konformitas
dianggap berbeda, sulit, dan menyimpang.
Anggota yang menyimpang dapat
diejek/ditertawakan, dihukum, atau ditolak anggota kelompok yang lain.
Kita manusia secara alami merupakan suatu spesies sosial.
Melalui interaksi dengan orang lain kita menerima
dukungan emosional, afeksi, dan cinta. Ambil bagian di dalamnya merupakan pengalaman yang menyenangkan. Penelitian terhadap individu yang terasing
dalam waktu yang lama, menunjukkan bahwa
kekurangan kontak sosial merupakan pengalaman yang menimbulkan stres dan
traumatik (Baumister & Leary, 1995; Schachter, 1959; Williams, 2001).
Adanya kebutuhan akan kebersamaan secara sosial (social companionship) yang fundamental
seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa kita sering melakukan konformitas untuk
diterima oleh orang lain. Pengaruh sosial normatif ini terjadi bila pengaruh
orang lain mengakibatkan kita melakukan konformitas untuk disukai dan diterima
oleh mereka.
Sesi baseline : Subjek
dalam kelompok (7-9 orang) diminta untuk menentukan garis pembanding (kartu
sebelah kanan) yang mana yang sama panjangnya dengan garis standard (kartu di
sebelah kiri).
Sesi eksperimen: Subjek dalam kelompok diberi tugas yang
sama seperti sesi baseline, namun di dalam kelompok terdapat seorang pembantu
eksperimenter (confederate) yang
menyamar sebagai subjek, yang mendapat giliran pertama menjawab dan membuat
pilihan garis nomor 1 (yang jelas salah).
Percobaan dilakukan sebanyak 12 kali.
Hasil eksperimen: Di luar harapan
Asch, meskipun jawaban yang benar sangat jelas (garis no 2), namun sebanyak 76%
dari peserta eksperimen melakukan konformitas (mengikuti confederate memberikan
jawaban salah), setidaknya dalam satu sesi. Rata-rata subjek melakukan
konformitas sebanyak 3 kali (sesi 1-3) dalam 12 sesi percobaan yang dilakukan.
Seperti
halnya penelitian Sherif, penelitian Asch juga menunjukkan bahwa persepsi
visual seseorang sama-sama mudah terpengaruh oleh orang lain. Perbedaannya, dalam eksperimen Asch subjek
sebenarnya dapat melihat dengan jelas jawaban mana yang benar. Namun terdapat
kecenderungan subjek mengikuti jawaban dari kelompok, meskipun ia tidak yakin
dengan jawaban tersebut. Hal ini disebabkan karena subjek merasakan emosi
negatif, perasaan tidak nyaman dan tertekan bila mengikuti keyakinannya sendiri
dan bertentangan dengan kelompok.
Kesimpulan
tersebut didukung oleh penelitian Gregory Berns dkk (2005) yang menemukan fakta
biologis bahwa subjek yang menolak pengaruh sosial normatif mengalami
ketidaksenangan dan ketidaknyamanan. Hasil pengukuran menggunakan magnetic resonance imaging/ MRI (alat
perekam perubahan aktivitas otak) menemukan sbb:
(1) Pada sesi baseline (subjek tidak dipengaruhi orang lain), otak
menunjukkan aktivitas pada area visual/perseptual (posterior);
(2) Jika subjek melakukan konformitas mengikuti jawaban salah, otak juga
menunjukkan aktivitas pada area visual/perseptual;
(3) Jika subjek mengikuti pilihannya sendiri (tidak mengikuti jawaban
salah), otak tidak menunjukkan aktifitas pada area visual/perseptual melainkan
pada area emosi negatif (amygdala)
dan area yang mengatur perilaku sosial (coudate
nucleus sebelah kanan).
Kapan Seseorang Melakukan Konformitas terhadap Pengaruh
Sosial Normatif?
Bibb
Latane (1981) mengemukakan teori pengaruh sosial (social impact theory) untuk menjelaskan variabel-variabel yang
menentukan seseorang merespon pengaruh
sosial. Variabel-variabel tersebut adalah: (1) Strength : seberapa penting kelompok itu bagi individu; (2) Immediacy
: seberapa dekat kelompok itu dalam segi ruang dan waktu, ketika kelompok mencoba mempengaruhi
individu; (3) Number : seberapa
banyak orang di dalam kelompok.
Berikut
ini uraian lebih rinci yang berkaitan
dengan social impact theory:
1.
Ketika anggota kelompok berjumlah 3 orang atau lebih
Penelitian
Asch dan penelitian-penelitian lain
menemukan bahwa konformitas meningkat
bila jumlah anggota lebih banyak; tetapi bila anggota berjumlah 4 atau 5
orang maka konformitas tidak bertambah lagi secara signifikan. Jadi, tidak
perlu ada kelompok dengan jumlah yang sangat banyak untuk menciptakan pengaruh
sosial normatif.
2.
Ketika menganggap kelompoknya penting
Tekanan
normatif lebih terasa bila berasal dari individu-individu yang memiliki
hubungan persahabatan dan percintaan. Hal ini karena ada nilai yang sangat
besar atas cinta dan penghargaan, sehingga individu yang memiliki kelekatan (attachment) yang kuat terhadap kelompok
seperti itu akan lebih terpengaruh oleh pengaruh sosial normatif dibanding
individu lain yang kelekatannya kurang kuat.
3.
Ketika ada orang yang tidak beraliansi dengan kelompok
Pengaruh
sosial normatif dalam kelompok sangat kuat jika individu-individu dalam
kelompok meyakini hal yang sama. Pentingnya memiliki aliansi (sekutu) dapat
diketahui dari eksperimen Asch (1955),
di mana 6 dari 7 confederate
memberikan jawaban yang salah dan 1 confederate
memberikan jawaban benar dalam tiap percobaan.
Hasilnya, meskipun hanya ada satu orang yang dapat menjadi sekutu namun
subjek cukup terbantu untuk menolak tekanan normatif. Dalam eksperimen ini
subjek yang melakukan konformitas hanya 6%. Padahal dalam kondisi eksperimen di
mana semua confederate menjawab
salah, hasilnya 32% yang melakukan konformitas.
4.
Ketika budaya kelompoknya kolektivistik
Milgram
yang mereplikasi penelitian Asch di Perancis dan Norwegia menemukan bahwa
partisipan (subjek) di Norwegia memiliki tingkat konformitas lebih tinggi
dibanding partisipan di Perancis. Hal ini nampaknya karena Norwegia yang
memiliki kohesi yang tinggi, ”memiliki perasaan mendalam di dalam
beridentifikasi pada kelompok”; sedangkan Perancis memiliki budaya ”jauh dari
adanya konsensus dalam kehidupan sosial dan politik”.
Hasil
penelitian meta analisis terhadap 133
eksperimen Asch ”menilai garis” yang dilakukan dalam 17 negara , ditemukan
bahwa nilai-nilai budaya mempengaruhi pengaruh
sosial normatif (Bond & Smith, 1996). Subjek dari budaya kolektivis (mementingkan
kelompok) menunjukkan konformitas yang lebih tinggi dibanding subjek dari
budaya individualis (mementingkan individu). Dalam budaya kolektivis
konformitas dinilai sebagai ciri positif (yaitu mempromosikan harmoni dan
hubungan yang suportif dalam kelompok); sedangkan di USA yang individualis
konformitas dinilai negatif.
Perbedaan Gender
dalam Konformitas
Hasil
enelitian terdahulu (Chrutchfield, 1955) menyatakan bahwa perempuan memiliki
tingkat konformitas lebih tinggi dibanding laki-laki. Bagaimanapun juga hasil riset yang lebih baru
menunjukkan hasil yang lebih kompleks.
Pengaruh Minoritas: Kapan Sedikit Orang Mempengaruhi
Banyak Orang ?
Mascovici
(1985; 1994; Mascovici dkk, 1994) berpendapat bahwa terdapat kondisi di mana
individu atau minoritas dalam kelompok dapat
mempengaruhi perilaku atau keyakinan mayoritas. Inilah yang disebut sebagai
pengaruh minoritas (minority influence).
Kunci dari
pengaruh minoritas adalah konsistensi : Orang-orang yang memiliki pandangan
minoritas harus memiliki pandangan yang tetap sama dari waktu ke waktu, dan
sesama anggota minoritas satu sama lain harus sepakat. Misalnya, minoritas ilmuwan memunculkan
kepedulian terhadap pemanasan global lebih dari dua dekade yll; dan sekarang
hampir semua ilmuwan memberikan perhatian.
MENGGUNAKAN PENGARUH SOSIAL UNTUK MEMPROMOSIKAN PERILAKU
YANG BERMANFAAT
Konformitas
informasional maupun normatif terjadi, termasuk di dalam budaya individualistis. Jadi, kita
dapat menggunakan kecenderungan ini untuk mempengaruhi orang-orang untuk
berperilaku yang baik secara umum.
Cialdini
dkk (1991) memberikan saran, pertama-tama kita perlu berfokus pada jenis norma
apa yang beroperasi dalam situasi yang kita hadapi. Dengan demikian selanjutnya
kita dapat mendukung orang-orang untuk melakukan konformitas yang baik secara
sosial.
Terdapat dua jenis norma sosial
budaya: injunctive norms dan descriptive norm.
1.
Injunctive norms: Persepsi
orang-orang mengenai perilaku apa yang disetujui dan yang tidak disetujui oleh
orang lain. Norma ini digunakan untuk memotivasi perilaku dengan cara
menawarkan ganjaran terhadap perilaku yang normatif dan menawarkan hukuman terhadap perilaku yang tidak normative.
2.
Descreptive norms: Persepsi
orang-orang mengenai bagaimana secara aktual orang-orang berperilaku dalam
situasi yang dihadapi, tanpa memperhatikan apakah perilaku itu disetujui atau
tidak disetujui oleh orang lain. Norma ini digunakan untuk memotivasi perilaku
dengan cara menginformasikan kepada orang-orang mengenai perilaku apa yang
efektif dan adaptif.
________________________________________________________________________
Sumber:
Aronson, E.,
Wilson. T.D., & Akert, R.M. (2007). Social Psychology (6th
edition). Singapore :
Pearson Prentice Hall

Thank you, your article is very good
ReplyDeleteviagra asli
cialis asli
viagra jakarta
viagra asli jakarta
toko viagra jakarta
jual viagra jakarta
agen viagra jakarta
toko viagra asli
jual viagra asli
jual viagra
toko viagra
agen viagra
cialis jakarta
cialis asli jakarta
titan gel asli
titan gel jakarta
titan gel asli jakarta
viagra cod jakarta
obat viagra jakarta
obat viagra asli
viagra usa
viagra original
obat viagra
obat kuat viagra
jual cialis
toko cialis
obat cialis
obat cialis asli
obat kuat cialis
obat cialis jakarta
toko cialis jakarta
jual cialis jakarta
agen cialis jakarta
toko titan gel
jual titan gel
vitamale asli
permen soloco asli
maxman asli
vimax asli
viagra
titan gel
hammer of thor
hammer of thor asli
hammer of thor jakarta
hammer of thor asli jakarta